Masih Ada Kaki untuk Berjuang”: Kisah Pak Enon, Ayah yang Pantang Menyerah pada Keadaan
JAKARTA, Pasti-news.com — “Kan masih ada kaki, ya pakai aja yang ada buat cari nafkah.”
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun dari seorang ayah bernama Pak Enon (50), kalimat tersebut menjadi gambaran tentang keteguhan hati, perjuangan, dan keberanian menghadapi kehidupan.
Sejak lahir, Pak Enon tidak memiliki kedua tangan akibat kelainan genetik. Namun keterbatasan fisik tersebut tidak membuatnya memilih menyerah. Ia justru berusaha menggunakan apa yang masih dimilikinya untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dengan kedua kakinya, Pak Enon menjalani pekerjaan sebagai teknisi servis elektronik.
Perlahan, ia menjepit obeng menggunakan jari-jari kakinya. Gerakan yang bagi sebagian orang tampak sulit itu telah menjadi bagian dari kesehariannya dalam memperbaiki berbagai perangkat elektronik.
Belajar demi bisa bekerja
Pak Enon tidak begitu saja memiliki keterampilan tersebut.
Ia pernah mengikuti kursus servis elektronik untuk mempelajari keterampilan yang kemudian menjadi salah satu sumber penghasilannya.
Perjalanannya tidak selalu mudah. Ada orang yang mencibir, meragukan, bahkan mempertanyakan kemampuannya.
Namun, keraguan tersebut justru menjadi tantangan bagi Pak Enon.
Ia ingin membuktikan bahwa kondisi fisik bukan berarti seseorang tidak mampu menghasilkan sesuatu.
Kegigihannya bahkan membuat Pak Enon sempat dikirim ke kota besar untuk memperdalam keterampilan melalui sebuah program kedinasan.
Setelah menyelesaikan proses tersebut, ia kembali ke kampung halamannya dan melanjutkan kehidupannya sebagai teknisi servis elektronik.
Penghasilan kecil, risiko tidak kecil
Kini, perjuangan Pak Enon menghadapi tantangan yang berbeda.
Memasuki usia 50 tahun, kemampuan penglihatannya mulai menurun.
Padahal, pekerjaan servis elektronik membutuhkan ketelitian tinggi karena harus berhadapan dengan komponen-komponen yang ukurannya sangat kecil.
“Sekarang mata udah rada burem. Komponen TV kan kecil-kecil, jadi suka kelihatan ngebayang. Kalau sampai salah pasang, ya saya yang harus tanggung jawab ganti rugi,” ujar Pak Enon.
Penghasilan dari satu pekerjaan servis pun tidak selalu besar. Terkadang, ia hanya mendapatkan sekitar Rp50 ribu dari sebuah pekerjaan.
Risikonya justru dapat jauh lebih besar.
Jika terjadi kesalahan dalam pemasangan komponen, Pak Enon harus bertanggung jawab mengganti kerusakan. Biayanya bahkan dapat mencapai ratusan ribu rupiah.
Artinya, pekerjaan yang seharusnya memberikan penghasilan terkadang justru berpotensi membuatnya mengalami kerugian.
Order servis semakin sepi
Tantangan lain datang dari kondisi pasar.
Order servis elektronik yang diterimanya kini semakin berkurang. Masyarakat semakin mudah membeli perangkat elektronik baru dengan harga yang relatif terjangkau.
Ketika televisi atau perangkat elektronik mengalami kerusakan, sebagian orang memilih membeli barang baru daripada memperbaikinya.
Bagi Pak Enon, kondisi tersebut tentu berpengaruh terhadap penghasilannya.
Namun sekali lagi, ia tidak memilih berhenti.
Ada impian sederhana di rumah
Di balik kesederhanaan hidupnya, Pak Enon masih menyimpan harapan.
Ia ingin memiliki modal usaha untuk membuka warung kecil di rumah, menjual makanan dan kebutuhan sehari-hari.
Ia juga ingin memiliki tempat servis elektronik sendiri di rumah.
Dengan demikian, ia tidak harus terlalu sering bepergian jauh hanya untuk mencari pekerjaan, bahan, maupun suku cadang.
Bekerja dari rumah akan membuatnya lebih mudah mengatur pekerjaan sekaligus tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah.
Bagi sebagian orang, warung kecil dan tempat servis sederhana mungkin bukan sesuatu yang besar.
Tetapi bagi Pak Enon, itulah impian untuk mendapatkan penghasilan yang lebih stabil dan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
“Masih ada kaki untuk berjuang”
Kisah Pak Enon sesungguhnya bukan semata-mata tentang seseorang yang hidup dengan keterbatasan fisik.
Ini adalah kisah tentang seorang ayah yang memilih berjuang daripada menyerah.
Ia kehilangan kedua tangannya sejak lahir.
Namun ia tidak kehilangan kemauan untuk hidup.
Ia tidak memiliki apa yang dimiliki kebanyakan orang, tetapi ia berusaha memaksimalkan apa yang masih ada.
“Masih ada kaki,” kata Pak Enon.
Sebuah kalimat pendek yang menyimpan makna panjang.
Ketika satu pintu terasa tertutup, ia mencari jalan lain.
Ketika kemampuan fisiknya memiliki keterbatasan, ia belajar menggunakan kemampuan yang masih dimilikinya.
Ketika order semakin sepi, ia tetap memikirkan cara untuk mendapatkan penghasilan.
Pelajaran untuk kita semua
Kisah Pak Enon seharusnya menjadi cermin bagi siapa pun yang merasa hidupnya sedang berat.
Kita yang masih memiliki tubuh lengkap terkadang merasa tidak berdaya hanya karena menghadapi masalah, kegagalan, atau kesulitan hidup.
Kita sering mengeluh ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan.
Sementara Pak Enon, dengan segala keterbatasannya, masih berkata:
“Masih ada kaki untuk berjuang.”
Ia kehilangan kedua tangan, tetapi tidak kehilangan semangat untuk hidup.
Kita yang masih memiliki dua tangan dan dua kaki, jangan sampai justru kehilangan semangat ketika menghadapi keadaan.
Belajarlah dari Pak Enon.
Selama masih ada kemampuan untuk berusaha, jangan menyerah pada keadaan.
Karena keterbatasan tubuh bukan alasan untuk berhenti berjuang.
Dan perjuangan seorang ayah untuk keluarganya tidak selalu diukur dari seberapa besar penghasilan yang diperoleh.
Terkadang, perjuangan itu terlihat dari keberanian untuk bangun setiap hari, bekerja dengan kemampuan yang ada, dan tetap berusaha memberikan kehidupan yang terbaik bagi orang-orang yang dicintainya.
Tidak ada penggalangan donasi
Kisah ini bukan penggalangan donasi dan bukan permintaan bantuan materi.
Tulisan ini hanya ingin menyampaikan sebuah cerita tentang perjuangan seorang ayah sekaligus mengajak kita untuk mengambil pelajaran dari keteguhan hatinya.
Yang kami titipkan hanyalah doa terbaik.
Semoga Pak Enon senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, umur panjang, rezeki yang luas, serta kemudahan dalam menjalani setiap perjuangannya.
Semoga impiannya untuk memiliki warung kecil dan tempat servis elektronik di rumah suatu hari dapat terwujud.
Semoga perjuangan Pak Enon menjadi pengingat bagi kita semua:
Jangan merasa tidak berdaya hanya karena hidup sedang sulit.
Selama masih ada yang bisa dilakukan, lakukan.
Selama masih ada kemampuan untuk berjuang, jangan menyerah.
Karena selama harapan masih ada, perjuangan belum selesai.
Pak Enon, tetaplah kuat.
Masih ada kaki untuk berjuang. Dan selama masih mau berjuang, harapan akan selalu ada. 🙏😭
Mohon doa terbaik untuk Pak Enon dan keluarganya.
Dewan Pimpinan Pusat Pengacara dan Aktivis Sejati (DPP-PASTI)
