Lamaran Bernuansa Budaya, Tradisi Palembang dan Batak Melayu Bertemu di Tangerang Selatan
TANGERANG SELATAN, Pasti-news.com — Keberagaman budaya di Kota Tangerang Selatan kembali terlihat dalam sebuah prosesi lamaran yang mempertemukan dua latar belakang budaya berbeda. Tradisi keluarga dari Palembang dan Batak keturunan Melayu berpadu dalam suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan.
Prosesi lamaran pasangan Wisnu Bakas Damar dan Nabila Amanda Azahra digelar pada Sabtu, 29 Agustus 2026, di Aroem Restaurant, Serpong, Tangerang Selatan, Banten.
Acara tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana keberagaman budaya daerah dapat hidup berdampingan di tengah masyarakat perkotaan. Kedua keluarga membawa nuansa dan tradisi masing-masing dalam sebuah momentum yang tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan menuju pernikahan, tetapi juga memperlihatkan kekayaan budaya masyarakat Tangerang Selatan.
Sekretaris DPD Pengacara dan Aktivis Sejati (PASTI) Provinsi Banten sekaligus jurnalis, Tana, menilai fenomena perpaduan budaya seperti ini patut mendapat perhatian dan apresiasi.


Menurutnya, Tangerang Selatan merupakan kawasan yang dihuni masyarakat dengan latar belakang budaya yang sangat beragam, mulai dari Betawi, Sunda, Jawa, Batak, Palembang, Melayu, hingga berbagai kebudayaan lainnya.
“Ini merupakan bagian dari budaya yang berkembang di Tangerang Selatan. Masyarakat dari berbagai daerah telah tinggal cukup lama dan membangun kehidupan bersama di sini. Perpaduan budaya dalam acara lamaran seperti ini merupakan kekayaan yang perlu dihargai dan dilestarikan,” ujar Tana.
Budaya Tidak Boleh Hilang di Tengah Modernisasi
Menurut Tana, perkembangan kota yang semakin modern tidak seharusnya membuat masyarakat melupakan akar budaya dan tradisi yang dibawa dari daerah asal masing-masing.
Justru, keberagaman tersebut dapat menjadi identitas sosial yang memperkaya kehidupan masyarakat Tangerang Selatan.
Prosesi lamaran Wisnu dan Nabila menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi keluarga tetap dapat dipertahankan sekaligus beradaptasi dengan kehidupan masyarakat perkotaan.
Perbedaan latar belakang budaya antara calon mempelai tidak menjadi penghalang. Sebaliknya, perbedaan tersebut dapat menjadi ruang untuk saling mengenal, menghormati dan memperkaya tradisi kedua keluarga.
Peran Pemerintah Daerah Dinilai Penting
Tana juga berharap Pemerintah Kota Tangerang Selatan, khususnya perangkat daerah yang membidangi pendidikan dan kebudayaan, semakin memberikan perhatian terhadap pelestarian budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya berarti menjaga kesenian tradisional atau peninggalan budaya, tetapi juga mendokumentasikan dan memberikan ruang terhadap praktik budaya yang masih dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Pemerintah daerah perlu melihat bahwa budaya yang hidup di tengah masyarakat Tangerang Selatan sangat beragam. Budaya Betawi, Sunda, Jawa, Batak, Palembang, Melayu dan budaya lainnya merupakan bagian dari dinamika masyarakat Tangsel. Semuanya patut dihargai dan dilestarikan,” kata Tana.
Ia menambahkan, keberagaman budaya justru dapat menjadi kekuatan sosial apabila dikelola dengan semangat persatuan dan saling menghormati.
Lamaran Menjadi Potret Keberagaman Tangsel
Suasana prosesi lamaran Wisnu dan Nabila yang dihadiri keluarga dan kerabat memperlihatkan bahwa tradisi budaya masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat modern.
Pertemuan dua latar budaya dalam satu keluarga juga menjadi simbol bahwa keberagaman bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan.
Dari Palembang dan Batak keturunan Melayu, bertemu di Tangerang Selatan dalam satu ikatan keluarga.
Bagi Tana, momentum tersebut sederhana tetapi memiliki makna yang lebih luas: budaya akan terus hidup selama masyarakat mau mengenal, menjalankan, menghormati dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.
“Lamaran bernuansa budaya masing-masing daerah seperti ini jangan hanya dipandang sebagai acara keluarga. Ini juga merupakan potret keberagaman masyarakat Tangerang Selatan yang patut kita apresiasi bersama,” pungkasnya.
Sumber: Tana — Jurnalis dan Sekretaris DPD PASTI Provinsi Bante
